DRAMA JALAN SALIB (JALAN SALIB, JALAN KEBENARAN)

Posted: Februari 25, 2011 in G_52 CREW INSIDE

JALAN SALIB, JALAN KEBENARAN

N1  : Kebenaran…. kemanakah engkau pergi?

Keadilan….berapa lama lagi kau bersembunyi?

Mengapa orang benar dihukum mati?

Mengapa yang adil dihancurkan?

Tuhan, masih berapa lama lagi kami harus menunggu?

N2 : Ia yang diremukkan karena kesalahan kita, menanggung maut karena kesalahan kita.

Ia yang benar dan adil, dibawa ke tempat pembantaian.

N3 : Untuk kita yang hina ini, Ia telah menderita dan mati. Lalu untuk Dia, apa yang

kita beri?

(Pilatus masuk, diikuti imam2, serta para serdadu yang mengikuti Yesus. Para wanita dan murid2 berdiri di kejauhan. Imam2 mendekati Pilatus dan berbicara dengan Pilatus, seorang Imam mendekati Yesus dan berbicara kepadaNya.)

 

N1, N2, N3     : Tetapi, Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita, ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya, dan oleh bilur-bilurNya kita menjadi sembuh.

 

N1 :PERHENTIAN I. YESUS DIHUKUM MATI

Kami menyembah Dikau, ya Tuhan, dan bersyukur kepadaMu.

U   : Sebab dengan salib suciMu, Engkau telah menebus dunia.

N1 : “Yesus, kami tidak pernah menolak kebenaran. Sayangnya, kebenaran tidak mungkin datang dari orang muda dan tidak jelas asal usulnya sepertiMu. Seandainya kamu seperti kami, yang berhak berkhotbah dan bernubuat…. kamu terlalu berbahaya bagi kedudukan kami. Kamu harus dilenyapkan….!”

(Pilatus maju mendekati Yesus, berbicara sambil menunjuk ke para imam).

N2 : “Aku tahu, Engkau tidak bersalah. Tapi, jika Kau kubebaskan, karierku… maaf Yesus….”(pilatus berpaling kepada serdadu, dan menunjuk ke Yesus) “Salibkan Dia!”

N3 : Nama baik, kedudukan dan jabatan, terkadang membuat kita tidak berani mengikuti suara hati dan melepaskan tanggung jawab. Kita telah menjadi pilatus dan imam-imam kepala masa kini, demi status, kedudukan dan jabatan. Kita tidak setia seperti Yesus.

“Manusia, betapapun mulianya, takkan bertahan, tiada ubahnya dengan hewan yang jatuh binasa”

(Hening….)

N   : Kasihanilah Tuhan, kasihanilah kami.

U   : Allah, ampunilah kami orang berdosa.

(Lagu… sambil prajurit membawa salib dan menaruhnya di pundak Yesus).

 

N1 : PERHENTIAN II. YESUS MEMANGGUL SALIB

Kami menyembah dikau dan bersujud kepadaMu

U   : Sebab dengan salib suciMu engkau telah menebus dunia.

 

(Para wanita maju, namun tidak berani mendekat).

N3 : “Maaf Yesus, kami tidak punya masalah denganMu. Bukankah Engkau masih kami  eluk-elukkan kemarin? Tapi, para imam ini telah menjanjikan kami sesuatu, yang lebih berharga daripada mendengarkan khotbahMu. Lagi pula, tidak mungkin mereka keliru, karena mereka pemimpin umat. Yah….mungkin salib memang layak Kaudapatkan….”

(Murid-murid berjalan melewati Yesus tanpa berpaling, lalu berdiri memandang dari jauh).

N2 : “Guru, mereka terlalu banyak dan berkuasa, sedangkan kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kami takut, Guru. Maafkan kami….”

N1 : Diam dan tidak bersikap karena minder dan merasa tidak mampu, ikut arus dan tunduk pada mereka yang berkuasa, atau berpaling dari keadilan dan kebenaran demi janji dan imbalan sesaat…. itulah sikap yang kita warisi dari orang yahudi dan para murid ketika Yesus memanggul salib. Sikap yang kita anut di tengah masyarakat, bahkan dalam hidup menggereja. Kita takut menanggung konsekuensinya jika kita setia pada nilai kebenaran. Kita takut memanggul salib.

“Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal diriNya, memikul salibNya setiap hari, dan mengikuti Aku ”

(Hening….)

N   : Kasihanilah Tuhan, kasihanilah kami.

U         : Allah, ampunilah kami orang berdosa.

(Lagu… sambil Yesus berjalan memanggul salib dikawal para serdadu. Para imam berjalan penuh wibawa di depan Yesus, dan para wanita berjalan dibelakang Yesus, sambil saling berbicara dan menunjuk2  Yesus. Para murid mengikuti dari jauh, berlagak tidak peduli. Yesus jatuh ).

 

N3 : PERHENTIAN III. YESUS JATUH PERTAMA KALI

Kami menyembah dikau dan bersujud kepadaMu

U   : Sebab dengan salib suciMu engkau telah menebus dunia.

 

(Seorang serdadu maju, menarik Yesus pada rambutnya agar dia berdiri. Yesus berusaha bangkit).

N2 : (Menghardik)

“Bangun!!! Kami juga lelah sepertiMu! Seandainya bukan karena tugas, kami juga tidak mau repot-repot mengurusiMu.!”

N3 : Berapa banyak orang yang kita tindas atas nama tugas? Berapa kali keadilan kita langgar atas nama jabatan? Berapa sering kebenaran kita remukkan atas nama wewenang? Tidak cukupkah teladan orang NAZARET itu menanggalkan kekuasaan dan keallahannya, demi keselamatan orang lain?

“Tuhan telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan aku kepada maut”. Hening….

N   : Kasihanilah Tuhan, kasihanilah kami.

U   : Allah, ampunilah kami orang berdosa.

(Lagu…Yesus bangkit dan berjalan lagi. Maria muncul dari tengah-tengah umat, berusaha menjangkau Yesus, namun dihalangi para serdadu, didorong dan terjatuh. Kembali berusaha menjangkau Yesus, namun dihalang-halangi para imam dan serdadu. Para wanita  menunjuk-nunjuk Maria sambil berbicara satu sama lain, murid-murid melihat dari jauh. Yesus berpaling menatap Maria. Maria terduduk. Yohanes muncul ditengah-tengah orang banyak, dan merangkul Maria).

 

N1 : PERHENTIAN IV. YESUS BERJUMPA DENGAN IBUNYA.

Kami menyembah dikau dan bersujud kepadaMu

U   : Sebab dengan salib suciMu Engkau telah menebus dunia.

(Maria menjulurkan kedua tangannya ke arah Yesus seperti hendak menggendong, Yesus memandang Maria dengan tatapan kerinduan seorang anak kepada ibunya. Maria menatap…).

N3 : (penuh perasaan, setengah menangis, setengah menjerit)

“Anakku….!

Bukan untuk melihatMu seperti ini aku mengandungMu….!

Bukan untuk melihat sengsaraMu aku melahirkanMu!

Aku tidak membesarkanMu untuk melihatMu mati!

(Maria beringsut maju dengan kedua tangannya tetap terulur).

Sini nak, sembunyikan diriMu dalam pelukan Ibu, seperti dulu… menangislah dalam dekapanku sampai kau tertidur, seperti yang selalu kau lakukan dulu…

(Maria maju lebih dekat. Saat hampir menyentuh Yesus, para serdadu mendorongnya kembali hingga terjatuh)

N2 : Maria melupakan segalanya hanya untuk mendampingi Anaknya, meninggalkan segalanya demi menjumpai Puteranya yang menderita. Apakah kita meneladani Maria sebagai orang tua? Mendampingi, mengasuh dan mengasihi anak-anak kita? Menerima mereka apapun keadaannya? Atau, mementingkan diri sendiri, karier, pekerjaan, dan penampilan kita dari pada anak sendiri? Membesarkan mereka dengan uang, harta, ketidakpedulian dan pemaksaan kehendak, sambil menghakimi?

(ayat alkitab euy……)

(Hening…)

N   : Kasihanilah Tuhan, kasihanilah kami.

U   : Allah, ampunilah kami orang berdosa.

(Lagu sambil rombongan kembali berjalan. Maria dipapah Yohanes. Seorang serdadu dengan sigap menarik Simon dari Kirene yang berdiri di tengah2 umat, lalu memaksanya ikut memanggul salib. Simon berusaha berontak, namun menyerah di bawah todongan senjata).

 

N3 :  PERHENTIAN V. YESUS DITOLONG SIMON DARI KIRENE.

Kami menyembah Dikau dan bersujud kepadaMu

U   : Sebab dengan salib suciMu Engkau telah menebus dunia.

(Simon dengan wajah cemberut, memanggul sebagian salib. Ia menggerutu…)

N2 : “Orang ini….dalam susahnya, masih juga merepotkan orang lain! Yesus, kenapa tidak kau pikul sendiri salibMu? Jika bukan karena para serdadu ini memaksaku, tidak akan aku membantuMu.”

N3 : Menolong orang lain sering kita terima sebagai beban, kita lakukan karena terpaksa. Kita berbuat baik hanya pada mereka yang baik kepada kita, hanya kepada mereka yang kita kenal. Kita berbuat baik, membantu menyumbang, hanya agar kita dikenal, dipandang, disegani, dihormati, bahkan demi upah dan imbalan, demi simpati dan penghargaan.

Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan tidak berbantah-bantah supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda sebagai anak-anak Allah”.

(Hening…)

N   : Kasihanilah Tuhan, kasihanilah kami.

U   : Allah, ampunilah kami orang berdosa.

(Lagu…rombongan kembali berjalan. Veronica tiba-tiba muncul dari tengah umat, menerobos para serdadu dan mengusap wajah Yesus).

 

N1 : PERHENTIAN VI. VERONICA MENGUSAP WAJAH YESUS

Kami menyembah Dikau dan bersujud kepadaMu

U   : Sebab dengan salib suciMu Engkau telah menebus dunia.

(seorang serdadu mendorong Veronica dengan kasar hingga terjatuh. Veronica berlutut, memandang Yesus, sambil mendekap kain yang dipakainya mengusap wajah Yesus).

N3 : “Tuhan, hanya ini yang mampu ku lakukan…..”

(Veronica berusaha maju kembali, namun dihalangi oleh para serdadu).

N2 : Menolong dari kekurangan, menolong dari kerelaan, menolong karena ingin menolong…. itulah teladan yang diberikan oleh Verocnica. Tidak perlu pertimbangan panjang untuk melihat siapa yang butuh pertolongan, namun sering kali pertimbangannya sangat panjang untuk memutuskan pertolongan apa yang harus diberikan. Itu yang sering kita lakukan, sehingga sering salah kaprah, memberikan materi saat perhatian yang dibutuhkan, memberikan saran ketika karya nyata yang diinginkan membangun fisik ketika manusia terabaikan. Kita lupa, bahwa kerelaan kita menolong nilainya melampaui apapun bentuk pertolongan kita.

Berbahagialah orang yang murah hatinya karena mereka akan beroleh kemurahan”.

(Hening…)

N   : Kasihanilah Tuhan, kasihanilah kami.

U   : Allah, ampunilah kami orang berdosa

(Lagu……, rombongan kembali berjalan. Yesus jatuh, Simon berusaha menahan salib. Seorang serdadu menginjak Yesus, serdadu lain menariknya dengan kasar. Para wanita mulai berani maju dan menahan para serdadu).

 

N1 : PERHENTIAN VII. YESUS JATUH UNTUK KEDUA KALINYA.

Kami menyembah Dikau dan bersujud kepadaMu

U   : Sebab dengan salib suciMu engkau telah menebus dunia.

 

N2 : “Bangun!!! Kita tidak bisa berlama-lama. Tidak cukupkah orang ini menolongMu? Ayo, sudah cukup jauh kita berjalan. Sebentar lagi sampai. Jangan memperberat tugas kami!”

(seorang wanita maju, menarik seorang serdadu)

N3 : “tidakkah kalian melihat Ia kelelahan? Berikan Ia sedikit kesempatan untuk beristirahat!”

N1 : Bangun dari kejatuhan dan kelemahan, membutuhkan keberanian dan kesungguhan. Namun, menolong orang yang jatuh, butuh keberanian, serta ketulusan.

Sering kali, kita menolong dan berkarya, bukan karena ketulusan, tapi karena tidak ingin kalah pamor dari orang lain. Dan, kita membangun benteng-benteng persaingan antar pribadi, antar kelompok, demi kebanggaan semu. Gereja dan masyarakat kita, akhirnya dipenuhi dengan pribadi dan kelompok yang saling mengalahkan.

Apakah memuji Than menjadi sarana persaingan antara kelompok dan pribadi?

Apakah menjatuhkan orang dan kelompok lain adalah cara baru kita berdoa?

Menghancurkan kecenderungan untuk menyaingi dan mengalahkan pihak lain adalah salah satu cara bangkit dari kelemahan kita.

“Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya.”

(hening…)

N   : Kasihanilah Tuhan, kasihanilah kami.

U   : Allah, ampunilah kami orang berdosa

(Lagu….., Yesus berusaha berjalan, namun hampir tidak dapat. Para wanita mulai menangis dan berusaha menerobos para serdadu, namun dihalangi).

 

N2 : PERHENTIAN VIII. YESUS MENGHIBUR PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG MENANGISINYA

Kami menyembah Dikau dan bersujud kepadaMu

U   : Sebab dengan salib suciMu engkau telah menebus dunia.

(Para wanita menangis, menarik-menarik para serdadu, berusaha menghalang-halangi mereka. Para imam menarik para wanita ke belakang)

N3 : (Penuh perasaan) “Yesus, ampunilah kesalahan kami. Kami tidak dapat berbuat apa-apa. Kami tidak sanggup melihat penderitaanMu..!”

(Yesus, berpaling ke arah para wanita…)

N1 : “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu dan anak-anakmu!”

N2 : Betapa sering kita mengabaikan penderitaan orang lain, karena menganggap penderitaan kita jauh lebih berat!!!

Betapa sering kita membangun jarak dengan orang yang menderita; membangun jarak lewat penampilan yang mentereng, lewat kaca mobil dan tembok pagar rumah mewah, lewat jas dan dasi, lewat jubah dan kerudung, lewat gelar akademik dan profesi, bahkan lewat perbedaan darah dan suku… Kita membangun dunia kita sendiri… Memberikan nasehat tanpa solusi, kritikan tanpa jalan keluar…

Yesus mengajak kita untuk menjadi penghiburan bagi orang lain, dengan lebih dahulu meninggalkan keakuan kita; lebih dahulu bertobat sebelum mengajak orang lain bertobat…

“Bertolong-tolonglah dalam menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus”.

(hening…)

N   : Kasihanilah Tuhan, kasihanilah kami.

U   : Allah, ampunilah kami orang berdosa

(Lagu, Yesus maju beberapa langkah, terseok-seok, lalu terjatuh)

N3 : PERHENTIAN KESEMBILAN, YESUS JATUH UNTUK KETIGA KALINYA

Kami menyembah dikau dan bersujud kepadaMu

U   : Sebab dengan salib suciMu engkau telah menebus dunia.

(Simon dari Kirene berusaha membantu Yesus berdiri; kali ini dengan sungguh-sungguh, tanpa kekerasan)

N2 : Yesus, ayo bangkit! Aku akan menemaniMu memikul salib hingga akhir perjalanan ini.

(Yesus perlahan-lahan berdiri dengan dibantu Simon dan para serdadu)

N1 : Yesus kembali jatuh, namun Ia kembali bangkit. Kita semakin diajak untuk peduli pada orang lain, dan berusaha membantu yang jatuh untuk kembali berdiri. ..

Kita melihat setiap hari, begitu banyak orang yang jatuh dalam berbagai bentuk: anak yang membangkang terhadap orang tua, keluarga yang berantakan, kaum muda yang berperilaku menyimpang, umat yang tidak peduli terhadap gereja, orang yang kehilangan pekerjaan, masyarakat yang rusak…

Di manakah kita? Menonton? Menuding? Tidak peduli? Menyalahkan? Menerimanya sebagai kewajaran? Atau ikut terjatuh?

Yesus menawarkan kepada kita kekuatan untuk bangkit! Tetapi juga, Ia mengajak kita untuk peduli pada sesama, menjadi penopang bagi orang lain.

“”

N   : Kasihanilah Tuhan, kasihanilah kami.

U   : Allah, ampunilah kami orang berdosa

(Lagu, Yesus kembali berjalan,. Tiba di tempat penyaliban, salib diletakkan, para serdadu dengan kasar menanggalkan pakaian Yesus)

 

N3 : PERHENTIAN KESEPULUH, PAKAIAN YESUS DITANGGALKAN

Kami menyembah dikau dan bersujud kepadaMu

U   : Sebab dengan salib suciMu engkau telah menebus dunia.

(Para serdadu mengundi jubahNya. Tidak ada dialog di sini. Yesus berdiri, menghadap ke umat, tanpa pakaian. Maria kembali menangis, para imam berpaling, tetap penuh wibawa)

N2 : Yesus dipermalukan; pakaianNya ditanggalkan di depan umum!

Tanpa ditanggalkan pun, pakaian sering kali menjadi sarana untuk mempermalukan orang. Lihatlah sekelilingmu!!!           Lihatlah pakaian orang di sekitarmu!!!

Berapa kalikah kita mengukur orang lain dari penampilan dan pakaiannya?

Berapa sering kita menjadikan pakaian sebagai sebagai alat untuk menonjolkan diri dan menyepelekan orang lain?

Berapa kali kita berbusana tanpa memperhatikan situasi, lingkungan dan kepantasan?

N1 : Di hadapan Allah, pakaian dan penampilan kita tidak berarti apa-apa. Kepantasan hati dan perilaku jauh lebih bernilai, dari pada keelokan busana dan penampilan!

“…ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku dalam penjara, kamu mengunjungi Aku…”

(hening…)

N   : Kasihanilah Tuhan, kasihanilah kami.

U   : Allah, ampunilah kami orang berdosa

(Lagu, Yesus direbahkan di atas salib oleh para serdadu, siap dipaku)

 

N3 : PERHENTIAN KESEBELAS, YESUS DISALIBKAN.

Kami menyembah dikau dan bersujud kepadaMu

U   : Sebab dengan salib suciMu engkau telah menebus dunia.

(Para serdadu mulai memaku, Yesus kesakitan dalam diam. Para murid dan wanita berpaling, tidak sanggup melihat. Para imam tertawa, Maria melihat sambil menangis, dirangkul oleh Yohanes. Tidak ada dialog di sini)

N1 : Yesus dipaku… Yesus disalibkan… Menderita sendirian… tidak ada yang menolongNya.

Di manakah para muridNya? Di manakah mereka yang pernah disembuhkanNya? Di manakah mereka yang sebelumnya berteriak ‘Hossana Putera Daud’? Semuanya menghilang, semuanya meninggalkan Dia…

N2 : Mengetahui orang lain menderita namun tidak peduli, sma artinya ikut menyebabkan ia menderita. Keadilan menuntut kita untuk ikut meringankan beban orang lain. Ketidakpedulian pada keadilan membawa kita mengabaikan dan memperberat kesusahan sesama.

Yesus menawarkan salibNya menjadi tempat kita memakukan segala ketidakpedulian kita. Ia menawarkan tanganNya yang berlubang menjadi tempat kita menancapkan paku-paku dosa kita…

Adakah kita menawarkan diri kita menjadi tempat sesama kita meletakkan bebannya?

“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.”

(hening…)

N   : Kasihanilah Tuhan, kasihanilah kami.

U   : Allah, ampunilah kami orang berdosa

(Lagu, sambil salib ditegakkan. Para imam mengawasi hingga salib ditegakkan, lalu menjauh. Para wanita mendekat, para murid melihat dari tempat yang agak jauh. Maria dan Yohanes berdiri di kaki salib)

 

N3 : PERHENTIAN KEDUABELAS, YESUS WAFAT DI SALIB.

Kami menyembah dikau dan bersujud kepadaMu

U   : Sebab dengan salib suciMu engkau telah menebus dunia.

(Hening, umat berlutut. N1 dan N2 bergantian membacakan ketujuh sabda Yesus di kayu salib, dengan jelas dan perlahan. Para pemain lain berperan sesuai konteks. Sebaiknya, ada ilustrasi musik di sini)

Ketujuh Sabda Yesus:

1. Mat 27: 46 : Eli, Eli, lama sabakhtani?

2. Luk 23: 34 : Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

3. Yoh 19: 26 : Ibu, inilah anakmu.

4. Yoh 19: 27 : Inilah ibumu.

5. Yoh 19: 28 : Aku haus.

6. Luk 23: 46 : Ya Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaKu.

7. Yoh 19: 30 : Sudah selesai.

(Nyanyian ratapan…)

N   : Kasihanilah Tuhan, kasihanilah kami.

U   : Allah, ampunilah kami orang berdosa

(Lagu, sementara Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus muncul dari tengah-tengah umat, dari tempat yang berbeda. Yusuf berbicara dengan para serdadu, Nikodemus mendekati Maria)

 

N1 : PERHENTIAN KETIGABELAS, YESUS DITURUNKAN DARI SALIB

Kami menyembah dikau dan bersujud kepadaMu

U   : Sebab dengan salib suciMu engkau telah menebus dunia.

(Para serdadu menikam lambung Yesus, lalu Yusuf dan Nikodemus menurunkan Yesus dari salib dan meletakkanNya di pangkuan Maria. Maria menangis, mendekap Yesus, mengusap luka-lukaNya dengan kerudungnya. Yusuf membantu membersihkan jenazah Yesus, bersama Veronika, Yohanes dan para wanita. Nikodemus berbicara pada Maria, penuh hormat…)

N2 : Ibu, terimalah  anakmu…

(Maria memeluk Yesus, membuaiNya layaknya menidurkan bayi)

N3 : (Penuh perasaan) “Nak, sekarang Engkau dapat beristirahat. Tidurlah dalam pelukan Ibu, seperti dulu…” (Maria tersenyum sambil tetap terisak, menatap wajah Yesus) “Oh…, seandainya Engkau masih dalam buaianku, dalam gendonganku..” (Maria kembali menangis) “Tidurlah, Nak, semua sudah selesai… Tidak ada lagi yang akan menggangguMu… Ini aku, ibuMu…”

N1 : Yesus diturunkan dari salib, bukan oleh para rasulNya, orang-orang terdekatNya!!!

Ia diturunkan oleh Yusuf dan Nikodemus, 2 orang yang tidak pernah menonjol sebagai pengikutNya, tidak pernah menjadi orang-orang terdekatNya.

N2 : Kadang kala, bantuan dan pertolongan justru datang dari orang yang tidak pernah kita harapkan, orang yang kita abaikan, kita anggap remeh. Yusuf dan Nikodemus menunjukkan kepada kita, bagaimana menjadi sesama bagi orang lain. Bukan karena posisi dan jabatan, bukan karena wewenang dan kedekatan.

N1 : Sekali lagi, Maria mendekap anaknya yang dikasihinya, dengan pelukan seorang Ibu. Meskipun kini anaknya tidak lagi bernyawa, Maria tetap menunjukkan kasih keibuannya. Teladan Maria sekali lagi menjadi cermin bagi kita, bagaimana menjadi sesama bagi anak-anak kita.

N3 : “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

(hening…)

N   : Kasihanilah Tuhan, kasihanilah kami.

U   : Allah, ampunilah kami orang berdosa

(Lagu, para murid mendekat, begitu juga Simon dari Kirene. Prajurit dan imam-imam melihat dari jauh. Para murid mengambil jenazah Yesus dari pangkuan Maria, dan mengurusNya)

N1 : PERHENTIAN KEEMPATBELAS, YESUS DIMAKAMKAN.

Kami menyembah Dikau dan bersujud kepadaMu

U   : Sebab dengan salib suciMu engkau telah menebus dunia.

N2 : Para murid dan kenalan Yesus datang untuk mengurus pemakamanNya. Mereka berkumpul, setelah tahu bahwa Yesus telah wafat; bahwa keadaan telah aman.

N3 : Apakah kita termasuk dalam kelompok orang-orang yang suka bersembunyi saat orang lain mengalami masalah? Apakah kita termasuk mereka yang bersembunyi di belakang saat sahabat membutuhkan bantuan?

N1 : Sahabat, adalah orang yang selalu hadir, bahkan dalam saat-saat paling sulit. Sahabat, adalah orang setia, bahkan dalam kesukaran. Sahabat, adalah mereka yang berada bersama kita hingga saat-saat terakhir.

N2 : Yesus yang dimakamkan, rebah dalam penantian, menjelang kemuliaanNya. Akhir sengsaraNya, akan berujung pada kemuliaan. Menjadi sahabat dalam kesengsaraan, berarti juga akan menjadi teman dalam kebahagiaan.

N3 : “Seorang sahabat, menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”

(hening…)

N   : Kasihanilah Tuhan, kasihanilah kami.

U   : Allah, ampunilah kami orang berdosa

(Lagu, seraya jenazah Yesus dibawa ke luar, semua rombongan keluar, para imam dan serdadu keluar kewat arah yang lain)

 

(PERHENTIAN 1 & 2 BERADA DI TEMPAT YANG SAMA. PERHENTIAN 7 & 8 DI TEMPAT YANG SAMA. PERHENTIAN 10, 11, 12, 13, 14, DI TEMPAT YANG SAMA.)

Komentar
  1. ib prayitno mengatakan:

    bagus …………

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s