TEORI GESTALT

Posted: Februari 25, 2011 in PSIKOLOGI
  1. A. LATAR BELAKANG

Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan ( persepsi ) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah.

Pandangan pokok psikologi Gestalt adalah berpusat bahwa apa yang dipersepsi itu merupakan suatu kebulatan, suatu unity atau suatu Gestalt. Psikologi Gestalt semula memang timbul berkaitan dengan masalah persepsi, yaitu pengalaman Wertheimer di stasiun kereta api yang disebutnya sebagai phi phenomena. Dalam pengalaman tersebut sinar yang tidak bergerak dipersepsi sebagai sinar yang bergerak (Garret, 1958). Walaupun secara objektif sinar itu tidak bergerak. Dengan demikian maka dalam persepsi itu ada peran aktif dalam diri perseptor. Ini berarti bahwa dalam individu mempersepsi sesuatu tidak hanya bergantung pada stimulus objektif saja, tetapi ada aktivitas individu untuk menentukan hasil persepsinya. Apa yang semula terbatas pada persepsi, kemudian berkembang dan berpengaruh pada aspek-aspek lain, antara lain dalam psikologi belajar.

Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar, maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar . Karena asumsi bahwa hukum–hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu.

B. TOKOH TEORI GESTALT

    1. Max Wertheimer (1880-1943)

Max Wertheimer adalah tokoh tertua dari tiga serangkai pendiri aliran psikologi Gestalt. Wertheimer dilahirkan di Praha pada tanggal 15 April 1880. Ia mendapat gelar Ph.D nya di bawah bimbingan Oswald Kulpe. Antara tahun 1910-1916, ia bekerja di Universitas Frankfurt di mana ia bertemu dengan rekan-rekan pendiri aliran Gestalt yaitu, Wolfgang Kohler dan Kurt Koffka.Koffka dan Kohler

Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana. Konsep pentingnya : Phi phenomenon, yaitu bergeraknya objek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi.

Wertheimer dianggap sebagai pendiri teori Gestalt setelah ia melakukan suatu eksperimen dengan menggunakan sebuah alat yang bernama stroboskop, yaitu suatu kotak yang didalamnya terdapat dua buah garis yang satu tegak dan yang satu melintang. Jika kedua garis tersebut diperlihatkan secara bergantian terus menerus maka akan tampak seakan aska garis tersebut bergerak dari melintang menjadi tegak. Inilah yang disebut gerakan semu “Scheinbwegung”.

2.Kurt Koffka (1886-1941)

Koffka lahir di Berlin tanggal 18 Maret 1886. Kariernya dalam psikologi dimulai sejak dia diberi gelar doktor oleh Universitas Berlin pada tahun 1908. Pada tahun 1910, ia bertemu dengan Wertheimer dan Kohler, bersama kedua orang ini Koffka mendirikan aliran psikologi Gestalt di Berlin. Sumbangan Koffka kepada psikologi adalah penyajian yang sistematis dan pengamalan dari prinsip-prinsip Gestalt dalam rangkaian gejala psikologi, mulai persepsi, belajar, mengingat, sampai kepada psikologi belajar dan psikologi sosial. Teori Koffka tentang belajar didasarkan pada anggapan bahwa belajar dapat diterangkan dengan prinsip-prinsip psikologi Gestalt. Teorinya yang terkenal adalah Memory Trace (jejak ingatan).

3.Wolfgang Kohler (1887-1967)

Kohler lahir di Reval, Estonia pada tanggal 21 Januari 1887. Kohler memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1908 di bawah bimbingan C. Stumpf di Berlin. Ia kemudian pergi ke Frankfurt. Saat bertugas sebagai asisten dari F. Schumman, ia bertemu dengan Wartheimer dan Koffka.

Ia mengadakan penyelidikan terhadap inteligensi kera. Hasil kajiannya ditulis dalam buku betajukThe Mentality of Apes (1925). Eksperimennya adalah : seekor simpanse diletakkan di dalam sangkar. Pisang digantung di atas sangkar. Di dalam sangkar terdapat beberapa kotak berlainan jenis. Mula-mula hewan itu melompat-lompat untuk mendapatkan pisang itu tetapi tidak berhasil. Karena usaha-usaha itu tidak membawa hasil, simpanse itu berhenti sejenak, seolah-olah memikir cara untuk mendapatkan pisang itu. Tiba-tiba hewan itu dapat sesuatu ide dan kemudian menyusun kotak-kotak yang tersedia untuk dijadikan tangga dan memanjatnya untuk mencapai pisang itu.

Hal ini menjadi kesimpulannya bahwa apabila organisme menghadapi suatu masalah atau problem maka akan terjadi ketidak seimbangan kognitif sampai masalah itu selesai.

C. PENGERTIAN PSIKOLOGI GESTALT

Psikologi Gestalt adalah suatu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas. Data-data dalam psikologi gestalt disebut phenomena (gejala), sebab dalam suatu gejala terdapat dua unsur yakni objek dan arti. Objek adalah sesuatu yang dapat dideskripsikan setelah objek tersebut ditangkap oleh indra. Pada objek tersebut kiata akan memberikan arti dan sekaligus kita mendapatkan suatu informasi dari objek tersebut.

 

  1. 1. Teori Medan

 

Teori Gestalt ini dipandang sebagai usaha untuk mengaplikasikan field theory (teori medan). Teori ini dapat dideskripsikan sebagai system yang saling teerkait secara dinamis dan setiap unsur-unsurnya saling terkait satu sama lain. Teori ini digunakan dalam berbagai level pada konsep Gestalt. Psikologi Gestalt percaya bahwa apapun yang terjadi pada seseorang maka itu akan mempengaruhi segala sesuatu yang ada pada diri orang tersebut. Misalnya seseorang yang lidahnya kegigit tanpa sengaja, orang itu akan merasa perubahan dalam menjalani kesehariannya, misalnya tidak bisa menikmati makanan pedas karena perih jika terkena lidahnya.

 

  1. 2. Nature versus Nurture

Para Behavioris memandang otak sebagai penerima pasif dari sensasi yang nantianya akan menjadi respon. Menurut Behavioris sifat manusia ditentukan oleh segala sesuatu yang kita alami, sedangkan otak hanya sebagai penghubung. Akan tetapi penganut Gestalt mengatakan bahwa otak memberi peranan yang aktif. Menurut teoritis Gestalt, otak bereaksi terhadap sensoris yang masuk kedalam otak dan melakukan penataan serta membuat informasi itu bermakna. Ini adalah “sifat alami” dari otak ketika sensori masuk kedalam otak.

Menurut Gestalsian otak akan menciptakan suatu medan yang mempengaruhi informasi yang masuk kedalam otak. Kekuatan inilah yang mengatur pengalaman sadar. Jadi apa yang kita alami sacara sadar, itu adalah informasi sensoris yang telah dikelolah oleh medan kekuatan dalam otak. Karena teori ini Gestaltian dipandang sebagai nativistik. Menurut behaviorian kemampun otak itu bakan karena pengalaman. Akan tetapi gestaltian juga menunjukkan bahwa kemampuan organisational otak bukan merupakan warisan.

  1. 1. Hukum Pragnaz

Hukum Pragnaz ini menunjukkan tentang berarahnya segala kejadian yaitu tentang suatu keadaan seimbang. Keadaan yang seimbang ini mencakup sikap-sikap keturunan, kesederhanaan, kestabilan, simetri dan sebagainya. Contohnya Ketika melihat awan, kerapkali kita menghubungkan dengan objek yang ada dalam pikiran kita sehingga menjadi sebuah bentuk yang mirip suatu objek nyata lainnya. Misalnya mirip wajah. Contoh lain, Pada sebuah iklan, coba kita ingat kembali iklan pop mie. Pertama yang kita lihat adalah isi iklan keseluruhannya, dengan menyajikan berbagai gambaran untuk mendeskripsikan pop mie dan pada akhirnya kita tau bahwa itu iklan pop mie dengan kemasan yang baru.

  1. 2. Hukum-hukum tambahan

Ahli-ahli psikologi Gestlat telah mengadakan penelitian secara luas dalam bidang penglihatan dan akhirnya mereka menemukan bahwa objek-objek penglihatan itu membentuk diri menjadi Gestalt-gestalt menurut prinsip-prinsip tertentu. Menurut Koffka dan Kohler, ada prinsip-prinsip dapat dilihat pada hukum-hukum yaitu:

Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship);

yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna  dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka  akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Pada gambar diatas jika kita melihat kipas putih yang besar, maka yang menjadi bentuk (figure) adalah kipas tersebut dan yang berwarnah hitam adalah latar (ground), demikan sebaliknya.

Hukum Keterdekatan, yaitu Kedekatan (proxmity);

bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. Contohnya: Ketika kita memasuki ruangan 302 USD Kampus 3, kita akan menemui banyak meja, tapi kita akan lebih mudah melihat banyak meja tersebut dengan pengelompokan meja yang telah diatur menjadi 3 baris.

 

Hukum Ketertutupan atau Ketertutupan (closure)

bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Contohnya: Ketika kita sedang membaca bacaan, yang saat itu huruf-hurufnya terpotong-potong karena tinta hasil fotocopy yang kurang jelas. Akan tapi pada akhirnya kita dapat membaca tulisan tersebut dengan memperkirakan huruf apa saja yang tertulis.

 

Hukum Kesamaan atau Kesamaan (similarity);

bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. Pada contoh disamping, umumnya orang akan cenderung melihat delapan kolom yang vertical dibanding empat baris yang horizontal, sebab adanya kemiripan atau kesamaan yang membentuk arah vertical.

Arah bersama (common direction / continuity);

bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi  sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Contoh disamping menunjukkan bahwa kita cenderung mengikuti aliran halus atau bentuk-bentuk yang berkelanjutan dan bukan bentuk yang terputus.

 

 

  1. 1. Realitas Subjek dan Objektif

 

Menurut teoritis Gestalt, yang menentukan perilaku adalah kesadaran atau realitas subjektif dan fakta ini mengandung implikasi yang penting. Menurut Gestaltian Pragnanz bukan bukan satu-satunya yang mengubah atau memberikan makna pada apa yang kita alami. Hal-hal seperti kebutuhan, nilai-nilai, keyakinan, dan sikap juga melengkapi segala yang kita alami secara sadar. Maka dalam suatu lingkungan yang sama orang bisa menginterpretasikan keadaan itu berbeda-beda dan tentunya dengan reaksi yang berfariasi. Dalam hal ini Koffka membedakan antara geographical environment (realitas fisik atau objektif) dengan behavioral environment (realitas psikologis atau subjektif). Oleh karena itu, Koffka memahami bahwa orang bertindak karena mengetahui lingkungan behavioralnya ketimbang lingkungan geografisnya.

Koffka memberikan contong dari legenda Jerman kuno yang menunjukkan arti penting dari realitas subjektif dalam menentukan perilaku. Di suatu malam yang dingin seorang lelaki dengan menunggang kuda di tengah hujan salju tiba di sebuah penginapan. Dia tampak gembira bisa menemukan tempat berteduh setelah ia menempuh perjalanan jauh menembus hujan salju. Pemilik rumah yang membukakan pintu kaget melihat orang asing itu dan bertanya darimana asalnya. Orang itu menunjuk lurus kearah jalan yang habis dilaluinya. Pemilik rumah itu takjub dan bertanya, “ apakah kau tahu kalau engkau telah menunggang kuda melintasi Danau Constance?” Mendengar perkataan itu si penunggang kuda itu jatuh dari kudanya lantaran kaget dan langsung mati.

Di sini Koffka ingin menunjukkan bahwa realitas subjektif itu menentukan perilaku. Dimana sipenunggang kuda itu merasa bahwa ia berjalan diatas daratan, maka ia tidak takut ataupun cemas. Tapi realista objektifnya bahwa ia berjalan diatas danau yang membeku. Jika awalnya ia tahu bahwa akan berjaln diatas danau yang membeku, mungkin dia akan takut dan berhati-hati atau mungkin mengambil rute lain. Contoh lainnya: gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).

  1. 2. Prinsip Belajar Gestalt

Karya yang signifikan tentang belajar oleh anggota Gestalt adalah karya Kohler. Dimana dia mengasumsikan bahwa ketika suatu organisme mengalami suatu masalah atau problem maka akan muncul suatu keadaan yang disebut disekuilibrium kognitif, keadaan ini terus berlanjut sampai maslah itu selesai. Sebab menurut teoritist gestalt, keadaan inilah yang memotifasi organisme berusaha untuk kembali menyeimbangkan mentalnya. Belajar, menurut Gestaltis adalah suatu fenomena kognitif di mana organisme “mulai melihat” suatu solusi, ketika ia telah memikirkan problemnya. Pembelajarannya adalah memikirkan segala unsur yang dibutuhkan dalam memecahkan suatu masalah dan menyusunnya menjadi suatu solusi yang kemudian mendukung solusi berikutnya hingga masalah itu terpecahkan. Hal ini bisa menjadi sebuah insight bagi organisme

Insight (wawasan) ini diperoleh jika seseorang melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalan situasi tertentu. Dengan adanya insight maka didapatlah pemecahan masalah, dimengertinya persoalan, inilah inti belajar. Jadi yang penting bukanlah mengulang- ulang hal yang harus dipelajari, tetapi mengertinya, mendapatkan insight. Adapun timbulnya insight itu tergantung:

Kesanggupan, maksudnya kesanggupan atau kemampuan intelegensi individu

Pengalaman, karena belajar, berarti akan mendapat pengalaman dan pengalaman itu mempermudah mendapatkan insight.

Taraf kompleksitas dari suatu situasi, dimana semakin komplek situasinya semakin sulit masalah yang dihadapi.

Latihan, dengan banyaknya latihan akan dapat mempertinggi kesangupan memperoleh insght, dalam situasi-situasi yang bersamaan yang telah dilatih.

Trial and eror, sering seseorang itu tidak dapat memecahkan suatu masalah. Baru setelah mengadakan percobaan-percobaan, sesorang itu dapat menemukan hubungan berbagai unsur dalam problem itu, sehingga akhirnya menemukan insight.

Untuk menguji gagasan tentang teori belajar ini, Kohler menggunakan sejumlah eksperimen. Salah satu eksperimennya adalah problem memecahkan jalan memutar dimana hewan dapat melihat tujuannya tapi untuk mencapai tujuan itu dia harus mengambil jalur memutar. Dengan tipe problem semacam ini Kohler menemukan bahwa ayam amat kesulitan .

Percobaan yang kedua yang digunakan oleh Kohler mengharuskan untuk menggunakan alat untuk menjangkau objek yang diinginkan. Misalnya sebuah pisang diletakkan diluar jangkauan si minyet, sehingga monyet itu harus menggunakan tongkat agar cukup panjang untuk menjangkaunya. Dalam masing-masing kasus hewan tersebut mempunyai semua unsure yang digunakan untuk memecahkan problem yang dihadapi.

Gambar 1 menunjukkan bagaimana monyet bernama Chica menggunakan tongkat untuk menjangkau pisang.

Gambar 2 menunjukkan monyet bernama Grande yang menggunakan tumpukan peti untuk menjangkau pisang.

Gambar 3 menunjukkan bagaimanan monyet yang bernama Sultan, dalam eksperimen Kohler monyet ini adalah monyet paling cerdas  karena monyet ini menggabungkan dua tongkat untuk menjangkau buah pisang.

Gambar 4 menunjukkan Grande menggunakan struktur yang lebih kompleks dalam menyusun peti.

Gambar 5 menunjukkan bagaimana Chica menggunakan peti dan tongkat untuk mendapatkan buah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikut adalah prinsip-prinsip belajar Gestalt:

Belajar berdasarkan keseluruhan

Orang berusaha menghubungkan pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lainnya.

Belajar adalah suatu proses perkembangan

Materi dari belajar baru dapat diterima dan dipahami dengan baik apabila individu tersebut sudah cukup matang untuk menerimanya. Kematangan dari individu dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan individu tersebut.

Siswa sebagai organisme keseluruhan

Dalam proses belajar, tidak hanya melibatkan intelektual tetapi juga emosional dan fisik individu.

Terjadinya transfer

Tujuan dari belajar adalah agar individu memiliki respon yang tepat dalam suatu situasi tertentu. Apabila satu kemampuan dapat dikuasai dengan baik maka dapat dipindahkan pada kemampuan lainnya.

Belajar adalah reorganisasi pengalaman

Proses belajar terjadi ketika individu mengalami suatu situasi baru. Dalam

menghadapinya, manusia menggunakan pengalaman yang sebelumnya telah dimiliki.

Belajar dengan insight

Dalam proses belajar, insight berperan untuk memahami hubungan diantar unsurunsur yang terkandung dalam suatu masalah.

Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan dan tujuan siswa

Hal ini tergantung kepada apa yang dibutuhkan individu dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hasil dari belajar dapat dirasakan manfaatnya.

Belajar berlangsung terus-menerus

Belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Belajar dapat diperoleh dari pengalaman-pengalaman yang terjadi dalam kehidupan individu setiap waktu.

 

7.  Tansposisi

Transposisi adalah suatu prinsip pemecahan masalah dalam satu situasi, kemudian diaplikasikan ke problem lain. Kohler mengadakan eksperimen dengan menggunakan ayam. Kohler awalnya memberikan makanan pada kertas yang gelap tetapi tidak memberi makanan pada kertas yang berwarna terang. Setelah training, pada eksperimen kedua ketika ayam diberi pilihan diantara kertas yang gelap dan kertas yang lebih gelap, ayam akan memilih kekertas yang lebih gelap.

Gestaltian tidak memandang belajar sebagai pengembangan kebiasaan spesifik atau koneksi S-R. Menurut mereka apa yang dipelajari dalam situasi ini adalah prinsip relasional sebab ayam tersebut mendekati objek yang paling gelap dari dua objek tersebut.

    1. 2. Pemikiran Produktif

Berpikir produktif adalah pemahaman tentang hakikat dari problem, belajar semacam itu berasal dari dalam individu dan tidak dipaksakan oleh orang lain, ia mudah digeneralisasikan dan diingat dalam jangka waktu yang lama. Pendekatan pertama yang dilakukan oleh Wertheimer menekankan pentingnya logika, baik itu logika induktif maupun deduktif yang menetapkan kaidah yang harus diikuti untuk mencapai suatu kesimpulan. Dalam mendapatkan pemahaman ini akan melibatkan banyak aspek dari diri si pembelajar, seperti emosi, sikap, dan depresi, serta kecerdasan. Pendekatan kedua adalah cara yang didasarkan pada doktrin asosiasionisme. Contohnya:

(1)   siswa yang awalnya diperkenalkan persegi panjang, dan diajari mnghitung luas persegi panjang.

(2)   Kemudian dia dihadapkan dengan jajaran genjang, dan dia diharapkan menghitung luas dari jajaran genjang tersebut.

(3)   Siswa yang tadinya mempelajari tentang menghitung persegi panjang, menarik garis tegak lurus sehingga membentuk segitig. Kemudian segitiga itu dipotong kemudian digabungkan kesisi sebelahnya sehingga menjadi persegi. Dan ia menghitung luasnya dengan panjang kali lebar. Siswa yang melakukan hal ini akan mampu memecahakn berbagai problem dibandingkan siswa lainnya yang tidak tahu atau tidak memiliki wawasan seperti ini.

Wertheimer menekankan point yang sama yakni, belajar berdasarkan pemahaman akan lebih dalam dan lebih dapat digeneralisasikan ketimbang belajar yang hanya berdasarkan ingatan tanpa pemahaman. Agar benar-benar belajar siswa harus melihat hakikat atau struktur dari problem dan mereka harus melakukannya sendiri.

Contoh lain: seorang anak baru saja belajar tentang seorang tokoh yang bernama Scheuneun. Anak yang tahu bahwa konsonan “sch”, vocal “eu” yang dibaca “oi” itu identik dengan bahasa Jerman, maka anak itu akan mengetahui atau mengingat dengan baik tokoh tersebut dan darimana asalnya. Inilah yang disebut berpikir produktif.

 

 

  1. 3. Jejak Memori

 

Koffka adalah teoritis Gestalt yang berusaha menghubungkan masa lalu dengan masa sekarang lewat sebuah konsep yakni memory trace (jejak memori/ingatan). Jejak ingatan adalah suatu pengalaman yang membekas di otak. Jejak-jejak ingatan ini diorganisasikan secara sistematis mengikuti prinsip-prinsip Gestalt dan akan muncul kembali kalau kita mempersepsikan sesuatu yang serupa dengan jejak-jejak ingatan tadi. Misalkan dalam memecahkan suatu masalah, maka solusi itu akan melekat dalam pikiran seseorang (jejak memori). Saat seseorang  diwaktu lain berada dalam suatu situasi, pemecahan masalah yang sama, akan muncul sebuah proses yang akan “berkomunikasi” dengan jejak dari pengalaman pemecahan masalh sebelumnya. Jejak inilah yang mempengaruhi proses yang sedang berlangsung dan memudahkan upaya pemecahan masalah.

Perjalanan waktu berpengaruh terhadap jejak ingatan. Perjalanan waktu itu tidak dapat melemahkan, melainkan menyebabkan terjadinya perubahan jejak, karena jejak tersebut cenderung diperhalus dan disempurnakan untuk mendapat Gestalt yang lebih baik dalam ingatan.

Contoh: seorang anak pernah dimarahi oleh ibunya ketika ia dengan tidak sengaja menjatuhkan vas bunga kesayangan ibunya. Ibunya memamarahinya hingga anak itu merasa sangat sedih. Ketika dalam keadaan sedih, temannya mengajak dia bermain. Ia merasa kesedihannya mulai berkurang karena disibukkan dengan bermain. Suatu ketika waktu dia beranjak dewasa, ia merasa amat sedih karena diputusin pacarnya. Ia pun mencoba menghibur diri dengan bermain ke tempat permainan seperti Time Zone bersama teman-temannya.Dalam contoh diatas anak itu mendapat solusi dari proses memory trace, yakni mengatasi kesedihan dengan menyibukkan diri dengan bermain.

  1. D. PERBEDAAN BEHAVIOR DAN GESTALT

Behavior

Atomistik, Elemental, Molekular, objektif, Empiristik, Behavioral.

Menitikberatkan pada proses hubungan stimulus-respon-reinforcement sebagai bagian terpenting dalam belajar.

Lebih menekankan pada perilaku empiris (nyata)

Belajar ditafsirkan sebagai perubahan perilaku

Contoh : mengubah perilaku siswa yang tampak.

Gestalt

Holistik, Molar, Subjektif, Nativistik, Kognitig, Fenomenologis.

Berpandangan bahwa tingkahlaku seseorang bergantung pada insight daripada trial&error

Lebih menekankan pada kognisi

Lebih pada reorganisasi perseptual dalam memperoleh pemahaman.

Contoh : Mengubah pemahaman siswa tentang masalah yang dihadapinya.

 

  1. B. APLIKASI TEORI GESTALT

Gestalt berpendapat bahwa problem yang tak terselesaikan akan menimbulkan keambiguitas atau ketidak seimbangan kogbnitif dalam pikiran, dan itu adalah kondisi yang tidak di inginkan maka itu proses belajar adalah fenomena kognitif. Apabila individu mengalami proses belajar, terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Setelah proses belajar terjadi, seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem.

Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :

Pengalaman tilikan (insight) : bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.

Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning) : kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari.

Perilaku bertujuan (purposive behavior) : bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.

Prinsip ruang hidup (life space) : bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.

Transfer dalam Belajar : yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata susunan yang tepat. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain.

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s