Teori Erikson

Posted: Maret 7, 2011 in PSIKOLOGI

 

eriksonErik Erikson (lahir di Frankfurt-am-Main, Jerman, 15 Juni 1902 – meninggal di Harwich, Cape Cod, Massachusetts, Amerika Serikat, 12 Mei 1994 pada umur 91 tahun) adalah seorang psikolog Jerman yang terkenal dengan teori tentang delapan tahap perkembangan pada manusia. Sebenarnya Erikson adalah seorang psikolog Freudian, namun teorinya lebih tertuju pada masyarakat dan kebudayaan jika dibandingkan dengan para psikolog Freudian lainnya.

Erikson menjadi terkenal karena upayanya dalam mengembangkan teori tentang tahap perkembangan manusia yang dirintis oleh Freud. Erikson menyatakan bahwa pertumbuhan manusia berjalan sesuai prinsip epigenetik yang menyatakan bahwa kepribadian manusia berjalan menurut delapan tahap. Berkembangnya manusia dari satu tahap ke tahap berikutnya ditentukan oleh keberhasilannya atau ketidakberhasilannya dalam menempuh tahap sebelumnya. Pembagian tahap-tahap ini berdasarkan periode tertentu dalam kehidupan manusia: bayi (0-1 tahun), balita (2-3 tahun), pra-sekolah (3-6 tahun), usia sekolah (7-12 tahun), remaja (12-18 tahun), pemuda (usia 20-an), separuh baya (akhir 20-an hingga 50-an), dan manula (usia 50-an dan seterusnya).

 

Struktur Kepribadian

  1. EGO KREATIF

Ego kreatif dapat dan memang berhasil menemukan pemecahan-pemecahan kreatif atas masalah-masalah baru yang menimpanya pada saat tahap kehidupan.

Ego yang sempurna digambarkan oleh Erikson memiliki tiga dimensi yaitu:

  1. Faktualitas : Kumpulan fakta,data, dan metoda yang dapat diverifikasi dengan metoda kerja yang sedang berlaku. Ego ini berisi kumpulan fakta dan data hasil interaksi dengan lingkungan.
  2. Universalitas berkaitan dengan kesadaran akan kenyataan yang menghubungkan hal yang praktis dan kongkrit dengan pandangan semesta, mirip dengan prinsip realita dari Freud.
  3. Aktualitas : cara dalam berhubungan satu dengan yang lain, memperkuat hubungan untuk mencapai tujuan bersama. Ego adalah realitas keyakinan, terus mengembangkan cara baru dalam memecahkan masalah kehidupan, menjadi lebuh efektif, prospektif, dan progresif.

 

Dia menemukan tiga aspek ego yang saling berhubungan pada semua tahap kehidupan yaitu:

  1. Body Ego : mengacu ke pengalaman orang dengan tubuh/fisiknya sendiri.
  2. Ego ideal : gambaran mengenai bagaimana seharusnya diri, sesuatu yang bersifat ideal.
  3. Ego identity : gambaran mengenai diri dalam berbagai peran sosial.

 

 

  1. EGO OTONOMI FUNGSIONAL

Ciri khas psikologi ego dari Erikson sebagai berikut :

  1. Erikson menekankan kesadaran individu untuk menyesuaikan diri dengan pengaruh sosial. Pusat perhatiannya adalah kemasakan ego yang sehat, alih-alih konflik salah suai yang neurotik.
  2. Erikson berusaha mengembangkan teori insting dari Freud dengan menambah konsep epigenetik kepribadian.
  3. Erikson secara eksplisit mengemukakan bahwa motif mungkin berasal dari implus id yang tak sadar, namun motif bisa membebaskan diri dari id seperti individu meninggalkan peran sosial dimasa lalu.
  4. Erikson menganggap ego sebagai sumber kasadaran diri seseorang. Ego mengembangkan perasaan keberlanjutan diri dengan masa lalu dan masa yang akan datang.

 

 

Perkembangan Kepribadian : Teori Psikososial

Ego berkembang mengikuti pinsip epigenetik artinya tiap bagian dari ego berkembang pada tahap perkembangan tertentu dalam rentangan waktu tertentu.

Teori perkembangan Erikson yaitu tahap bayi( infancy), anak(early childhood), bermain(play age), sekolah (schoo age), remaja ( adolesence), dewasa awal (young adulthood), dewasa ( adulthood),  dan tua ( mature). Erikson mengakui adanya aspek psikoseksual dalam perkembangan, yang menurutnya bisa berkembang positif dan negatif. Pusat perhatiannya pada mendeskripsikan bagaimana kapasitas kemanusiaan mengatasi aspek psikoseksual  dan mengembangkan insting seksual menjadi positif.

 

Psikososial dalam kaitan nya dengan perkembangan

Bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai mati dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan organisme(manusia) yang menjadi matang secara fisik dan psikologis.

ada suatu “kecocokan timbal balik antara individu dengan lingkungan”-artinya di satu pihak antara kapasitas individu untuk berhubungan dengan suatu ruang kehidupan yang terdiri atas manusia dan pranata-pranata yang selalu bertambah luas, dan di lain pihak, kesiapan manusia dan pranata-pranata ini membuatnya menjadi bagian dari suatu keprihatinan budaya yang tengah berlangsung(Erikson 1975, hlm. 102).

 

Teori prkembangan psikososial  menekankan pentingya interaksi dalam pengembangan kepribadian.  Ada 6 pokok pikiran  menegenai teori ini yaitu :

  1. Prinsip Epigenetik
  2. Interaksi bertentangan : disetiap tahap ada konflik psikososial antara elemen sintonik (harmonisous)dan distonik (disruptive)  yang dibutuhkan oleh kepribadian.
  3. Kekuatan ego : setiap tahap hasilnya akan mempengaruhi atau mengembangkan ego sifat yang baik (virtue).
  4. Aspek somatis : aspek biological dari perkembangan manusia.
  5. Konflik dan peristiwa pancaragam : peristiwa pada awal perkembangan tidak berdampak langsung pada perkembangna kepribadian selanjutnya. Nerosis  disebabkan oleh pancaragam, meliputi peristiwa masa lalu, kini, dan masa yang akan datang.
  6. Pada masa adolesen dan sesudahnya, perkembangan kepribadian ditandai oleh krisis identitas, yang dinamakan “titik balik, priode peningkatan bahaya dan memuncaknya potensi.”

 

Terdapat delapan tahap perkembangan menurut Erikson, yaitu :

  1. Kepercayaan Dasar vs Kecurigaan Dasar             terjadi pada masa
  2. Otonomi vs Perasaan Malu dan Keragu-raguan                bayi dan masa
  3. Inisiatif vs Kesalahan                                         kanak-kanak
  4. Kerajinan vs Inferioritas
  5. Identitas vs Kekacauan Identitas                      masa edolesen
  6. Keintiman vs Isolasi                                          pada tahun-tahun
  7. Generativitas vs Stagnasi                                           dewasa dan usia
  8. Integritas vs Keputusasaan                               tua

 

  • tekanan khusus diletakkan pada masa adolesen karena masa tersebut merupakan peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.
  • Setipa tahap tidak dilewati dan kemudian ditinggalkan, namun masing-masing tahap ikut serta dalam membentuk seluruh kepriadian.

 

Pada setiap tahap perkembangan orang berinteraksi dengan pola-pola tertentu yang disebut ritualisasi (positif) sehingga orang menjadi terdorong untuk berkomunikasi sekaligus mengembangkan kepibadiannya. Ritualisasi maksudnya adalah suatu cara serba main-main(play-ful) namun dipolakan oleh kebudayaan dalam mengerjakan atau mengalami sesuatu dalam pergaulan sehari-hari antara individu-individu. Dengan tujuan menjadikan individu yang sedang matang anggota masyarakat yang efektif dan tidak canggung. Pola hubungan yang negatif disebut ritualism dimana pola hubungan yang tidak menyenangkan.

Ciri-ciri ritualism yaitu:

  1. Berfokus pada dirinya sendiri.
  2. Sifatnya tidak menyenangkan, tetapi complusif ( terpaksa dilakukan)
  3. Tidak dapat berinteraksi dengan orang lain dalam cara mendapat kepuasan. Melibatkan orang lain, dalam kedudukan untuk dipungkiri keberadaannya.

Tahap-tahap perkembangan psikososial

  1. Kepercayaan Dasar vs Kecurigaan Dasar
  • Trust Vs MistrustKepercayaan dasar terbentuk selama tahap sensorik-oral(tahun pertama kehidupan), yang ditunjukkan oleh bayi lewat kapasitasnya untuk tidur tenang, menyantap makanan dengan nyaman, dan membuang kotoran dengan santai.
  • Kebiasaan-kebiasaan, konsistensi, dan kontinuitas sehari-hari dalam lingkungan bayi merupakan dasar paling awal bagi berkembangnya suatu perasaan identitas psikososial. Melalui kontinuitas pengalaman dengan orang-orang dewasa, bayi belajar menggantungkan dirinya dan percaya pada orang lain; tetapi mungkin yang lebih penting ialah ia belajar mempercayai dirinya sendiri. Kepastian semacam itu harus mengungguli lawan negati dari kepercayaan dasar-yakni, kecurigaan dasar yang pada pokoknya adalah esensial bagi perkembangan manusia.
  • Perbandingan yang tepat antara kepercayaan dasar dan kecurigaan dasar mengakibatkan tumbuhnya pengharapan. Fondasi pengharapan terletak pada hubungan-hubungan pertama dengan orangtua keibuan dan dapat dipercaya yang responsif terhadap kebutuhan-kebutuhannya dan pengalaman-pengalaman.
  • Melalui sejumlah pengalaman yang terus meningkat, bayi memperoleh inspirasi tentang berpengharapan baru. Dan pada saat yang sama, ia mengembangkan kemampuan untuk membuang pengharapan yang dikecewakan, dan menemukan pengharapan dalam tujuan-tujuan dan kemungkinan dimasa mendatang.
  • Tahap ini merupakan ritualisasi numinous. Adalah pandangan bayi akan kehadiran ibu yang bersifat perasaan, pandangannya, pegangannya, sentuhannya, senyumannya, cara memanggil namanya, dan “pengakuan” atas dirinya. Pengakuan ibu terhadap bayi meneguhkan dan meyakinan bayi serta hubungan timbal baliknya dengan ibunya.
  • Penyimpangan ritualisasi ini adalah dalam kehidupan dewasa berupa pemujaan terhadap pahlawan secara berlebih-lebihan atau idolisme.

2. Otonomi vs Perasaan Malu dan Keragu-raguan

  • Autonomy Vs Shame, Pada tahap kedua kehidupan (tahap muskular-anal dalam skema psikoseksual) anak mempelajari apakah yang diharapkan dari dirinya, apakah kewajiban-kewajiban dan hak-haknya disertai apakah pembatasan-pembatasan yang dikenakan pada dirinya.
  • Untuk mengendalikan sifat penuh kemauan anak, orang-orang dewasa memanfaatkan kecenderungan universal pada manusia untuk merasa malu; namun mereka akan mendorong anak-anak untuk mengembangkan perasaan otonomi dan akhirnya mandiri.
  • Rasa mampu mengendalikan diri akan menimbulkan dalam diri anak rasa memiliki kemauan baik dan bangga yang bersifat menetap; sebaliknya rasa kehilangan kontrol-diri dapat menyebabkan perasaan malu dan keragu-raguan yang bersifat menetap.
  • Nilai kemauan muncul pada tahap ini. Kemauan-diri yang terlatih dan contoh kamauan luhur diperlihatkan oleh orang lain merupakan dua sumber dari mana kemauan berkembang. Kemauan menyebabkan anak secara bertahap mampu menerima peraturan hukum dan kewajiban.
  • Ritualisasi tahap ini sifat bijaksana(judicious), karena anak mulai menilai dirinya sendiri dan orang lain serta membedakan antara benar dan salah.
  • Penyimpangan ritualisasi ini adalah legalisme yakni penggunaan huruf-huruf ketentuan hukum daripada semangatnya, pengutamaan hukum daripada belaskasihan.

3. Inisiatif vs Kesalahan

  • Initiative Vs GuiltTahap ketiga ini setara dengan tahap lokomotor-genital pada tahap psikoseksualitas, ialah tahap inisiatif: suatu masa untuk memperluas penguasaan dan tanggung jawab. Selama tahap ini anak menampilkan diri lebih maju dan lebih “seimbang” secara fisik maupun kejiwaan.
  • Inisiatif bersama dengan otonomi memberikan kepada anak suatu kualitas sifat mengejar, merencanakan, serta kebulatan tekad dalam menyelesaikan tugas-tugas dan meraih tujuan-tujuan.
  • Bahaya dari tahap ini adalah perasaan bersalah yang dapat menghantui anakkarena terlampaui bergairah memikirkan tujuan-tujuan, termasuk fantasi-fantasi genital, menggunakan cara-cara agresif serta manipulatif untuk mencapai tujuan-tujuan itu.
  • Kegiatan utama anak dalam tahap ini adalah bermain, dan tujuan tumbuh dari kegiatan bermainnya, eksplorasi-eksplorasinya, usaha-usaha dan kegagalan-kegagalannya serta eksperimentasinya dengan alat permainan. Disamping permainan fisik, ia melakukan juga permainan kejiwaan dengan memerankan peranan orangtua dan orang-orang dewasa lain dalam suatu permainan khayalan.
  • Permainan memberikan kepada anak sejenis kenyataan perantara; ia bisa belajar dengan tentang tujuan benda-benda, hubungan antara dunia dalam dan dunia luar, dan bagaimana ingatan masa lampau bisa diterapkan pada tujuan-tujuan masa depan.
  • Tujuan adalah nilai yang munonjol pada tahap ini. Maka, tujuan adalah keberanian untuk merumuskan dan mengejar tujuan-tujuan yang bernilai yang bebas dari hambatan fantasi kanak-kanak, rsa bersalah dan ketakutan akan hukuman.
  • Ritualisasi tahap ini bercirikan ritualisasi dramatik. Anak secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan bermain, memakai pakaian, menirukan kepribadian-kepribadian orang dewasa, dan berpura-pura menjadi apasaja mulai dari seekor anjing sampai seorang astronot.
  • Penyimpangan ritualisasi ini adalah ritualisme impersonansi sepanjang hidup. Seorang dewasa memainkan peranan atau melakukan tindakan untuk menampilkan suutu gambaran yang tidak mencerminkan kepribadiannya yang sejati.

4. Kerajinan vs Inferioritas

  • Pada tahap keempat dalam proses epigenetik ini( pada freud, periode laten) anak harus belajar mengontrol imajinasi-imajinasinya yang sangat kaya, dan mulai menempuh pendidikan formal.
  • Bahaya dari tahap ini ialah anak bisa mengembangkan perasaan rendah diri apabila ia tidak berhasil menguasai tugas-tugas yang diberikan.
  • Nilai kompetensi muncul pada tahap ini. Yang penting adalah bahwa anak harus menggunakan kecerdasan dan energinya yang melimpah untuk aktivitas dan tujuan tertentu.
  • Rasa kompetensi dicapai dengan menurunkan diri pada pekerjaan dan penyelesaian tugas-tugas, yang pada akhirnya mengembangkan kecakapan kerja.
  • Selama usia ini, anak ingin sekali mempelajari teknik-teknik produktivitas. Maka, kompetensi merupakan penggunaan keterampilan dan kecerdasan untuk menyelesaikan tugas-tugas, yang tidak terhambat oleh perasaan rendah diri serba kekanak-kanakan.
  • Ritualisasi tahap ini merupakan ritualisasi formal, masa anak belajar bekerja secara metodis. Mengamati dan mempelajari metode-metode kerja memberikan kepada anak suatu rasa memiliki kualitas berupa keterampilan dan kesempurnaan.
  • Penyimpangan ritualismenya dimasa dewasa ialah formalisme, berwujud pengulangan formalitas-formalitas yang tidak berarti dan ritual-ritual kosong.

5. Identitas vs Kekacauan Identitas

  • Identity Vs Identity ConfusionSelama masa adolesen, individu mulai merasakan suatu perasaan tentang identitasnya sendiri, perasaan bahwa ia adalah manusia unik, namun siap untuk memasuki suatu peranan yang berarti ditengah masyarakat, entah peranan ini bersifat menyesuaikan diri atau bersifat memperbahuri.
  • Inilah masa dalam kehidupan ketika orang ingin menentukan siapakah ia saat sekarang dan ingin menjadi apakah ia dimasa yang akan mendatang.
  • Daya penggerak batin dalam rangka pembentukan identitas ialah ego dalam aspek-aspeknya yang sadar maupun tak sadar. Semua ciri yang dipilih ego mampu dihimpun dan diintegrasikan oleh ego serta membentuk identitas psikososial seseorang.
  • Selama tahap pembentukan identitas seorang remaja, mungkin merasakan penderitaan paling dalam dibandingkan pada masa-masa lain akibat kekacauan peranan atau kekacauan identitas.
  • Krisis identitas menunjuk pada perlunya mengatasi kegagalan yang bersifat sementara untuk selanjutnya membentuk suatu identitas yang stabil, atau sebaliknya suatu kekacauan peranan.
  • Krisis identitas adalah berbahaya karena seluruh masa depan individu generasi berikutnya sepetinya tergantung pada penyelesaian krisis ini.
  • Yang juga sangat menganggu adalah berkembangnya identitas negatif, yakni perasaan memiliki sekumpulan sifat yang secara potensial buruk atau tidak berharga. Cara yang biasa dipakai orang utnutk mengatasi identitas negatif ialah memproyeksikan sifat-sifat buruk kepada orang lain.
  • Pada masa remaja ini nilai kesetiaan berkembang. Keseimbangan ego dihadapkan pada situasi serba sulit; disatu pihak remaja diharapkan mengasimilasi diri kedalam pola hidup orang dewasa, tetapi dilain pihak remaja belum memiliki kebebasan seksual seperti orang dewasa.
  • Selama masa yang sulit ini remaja mendambakan pengetahuan batin dan pemahaman tentang dirinya sendiri serta berusaha merumuskan sekumpulan nilai-nilai yang khusus yang disebut dengan kesetiaan.
  • Kesetiaan adalah pondasi atas dasar mana terbentuk suatu perasaan identitas yang bersifat kontinu. Subtansi kesetiaan diperoleh melalui “konfirmasi” dari kebenaran-kebenaran dan juga afirmasi dari kawan-kawan.
  • Ritualisasi tahap ini adalah ritualisasi ideologi. Ideologi merupakan solidaritas keyakinan yang mnginkorporasikan ritualisasi-ritualisasi dari tahap sebelumnya menjadi sekumpulan ide dan cita-cita yang saling berkaitan. Kekacauan yang disebabakan karena tidak dimilikinya suatu ideologi yang terintegrasi adalah kekacauan identitas.
  • Penyimpangan ritualisasi ini adalah totalisme. Totalisme adalah preokupasi fanatik dan eksklusif dengan apa yang kelihatannya sungguh-sungguh benar.

6. Intimacy Vs IsolationKeintiman vs Isolasi

  • Dalam tahap ini, orang-orang dewasa awal (young adults) siap dan ingin menyatukan identitasnya dengan orang-orang lain.
  • Anak-anak muda itu dapat mengembangkan genitalitas seksual yang sesengguhnya dalam hubungan timbal balik dengan mitra yang dicintai.
  • Agar memiliki arti sosial yang bersifat menetap maka genitalitas membutuhkan seseorang untuk dicintai dan diajak mengadakan hubungan seksual, dan dengan siapa seseorang dapat berbagi rasa dalam hubungan kepercayaan.
  • Bahaya pada tahap keintiman ini adalah isolasi, yaitu kecenderungan menghindari hubungan karena orang tidak mau melibatkan diri dalam keintiman.
  • Nilai cinta muncul pada tahap ini. Meskipun cinta sudah nampak pada tahap-tahap sebelumnya, namun perkembangan keintiman yang sejati hanya muncul setelah menginjak usia remaja.
  • Orang-orang dewasa awal kini mampu melibatkan diri dalam hubungan bersama dimana mereka saling berbagi hidup dengan seorang mitra yang intim.
  • Meskipun identitas individual seseorang dipertahankan dalam suatu hubungan keintiman bersama, namun kekuatan egonya tergantung pada kesiapan mitraya untuk berbagi peran dalam membesarkan anak-anak, berbagi produktivitas, dan berbagi pandangan tentang hubungan mereka.
  • Ritualisasi tahap ini adalah afiliatif, yakni berbagi bersama dalam pekerjaan, persahabatan, dan cinta.
  • Penyimpangan ritualisasi ini adalah elitisme, terungkap lewat dengan pembentukan kelompok-kelompok eksklusif yang merupakan suatu bentuk narasisme komunal.

7. Generativitas vs Stagnasi

  • Generatvity Vs StagnationCiri tahap generatitivitas adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan atau diturunkan, ide-ide, dan sebagainya-serta pembentukan dan penetapan garis-garis pedoman untuk generasi mendatang.
  • Transmisi nilai-nilai sosial ini diperlukan untuk memperkaya aspek psikoseksual dan psikososial kepribadian. Apabila generativitas lemah atau tidak diungkapkan maka kepribadian akan mundur dan mengalami kemiskinan serta stagnasi.
  • Nilai pemeliharaan (care) berkembang dalam tahap ini. Pemeliharaan terungkap dalam kepedulian seseorang pada orang lain, dalam keinginan memberikan perhatian pada merea yang membutuhkan serta berbagi dan membagi pengetahuan dan pengalaman dengan mereka.
  • Ritualisasi tahap ini adalah sesuatu yang generasional, yakni ritualisasi peranan orangtua, produksi, pengajaran, penyembahan, dst. Perana dengan mana orang dewasa bertindak sebagai penerus nialai-nilai ideal kepada kaum muda.
  • Penyimpangan ritualisasi ini adalah ritualisme autoritisme. Adalah pengambilan kekuasaan yang bertentangan dengan pemeliharaan.

8. Integritas vs Keputusasaan

  • Integrity Vs DespairIni adalah tahap terakhir. Integritas dilukiskan sebagai suatu kedaan yang dicapai seseorang setelah memelihara benda-benda dan orang-orang, dan setelah berhasil menyesuaikan diri dengan keberhasilan dan kegagalan dalam hidup.
  • Lawan integritas adalah keputusasaan tertentu menghadapi perubahan-perubahan siklus kehiupan individu terhadap kondisi sosial dan historis, belum lagi kefanaan hidup dihadapan kematian.
  • Kebijaksaan adalah nilai yang berkembang dari hasil persatuan antara integritas dan keputusasaan dalam tahap ini. Kegiatan fisik dan mental menjadi lamban pada tahap terakhir siklus kehidupan ini.
  • Kebijaksanaan yang sederhana menjaga dan memberikan integritas pada pengalaman2 yang terkumpul dari tahun2 silam.
  • Mereka yang berada pada tahap kebijaksanaan dapat menyajikan kepada generasi2 yang lebih muda suatu gaya hidup yang bercirikan suatu perasaan tentang keutuhan dan keparipurnaan.
  • Perasaan tentang keutuhan ini dapat meniadakan perasaan putus asa dan muak, serta perasaan lega manakala situasi kehidupan kini berlalu.
  • Perasaan tentang keutuhan juga akan mengurangi perasaan tak berdaya dan ketergantungan yang biasa menandai akhir kehidupan.
  • Ritualisasi usia lanjut dapat disebut integral; tercermin dalam kebijaksaan segala zaman.
  • Ritualisme yang padanannya, sapientisme :”kedunguan dengan berpura-pura bijaksana”.

teori erikson, ppt

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Erik_Erikson

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s