Psikologi Belajar (Classical Conditioning)

Posted: Maret 9, 2011 in PSIKOLOGI

Pavlov's Logo

Ivan Petrovich Pavlov (1849 – 1939): Sarjana Rusia ini dilahirkan di Rjasan pada tanggal 14 September 1849 dan meninggal di Leningrad pada tanggal 27 Februari 1936. Sebenarnya ia bukan seorang sarjana psikologi dan ia pun tidak mau disebut sebagai ahli psikologi, karena ia adalah seorang sarjana ilmu faal yang fanatik. Cara berpikirnya adalah sepenuhnya cara berpikir ahli ilmu faal, bahkan ia sangat anti terhadap psikologi karena dianggapnya kurang ilmiah. Dalam penelitian-penelitiannya ia selalu berusaha menghindari konsep-konsep meupun istilah-istilah psikologi. Sekalipun demikian, peranan Pavlov dalam psikologi sangat penting, karena studinya mengenai refleks-refleks akan merupakan dasar bagi perkembangan aliran psikologi behaviorisme. Pandangannya yang paling penting adalah bahwa aktivitas psikis sebenarnya tidak lain daripada rangkaian-rangkaian refleks belaka. Karena itu, untuk mempelajari aktivitas psikis (psikologi) kita cukup mempelajari refleks-refleks saja. Pandangan yang sebenarnya bermula dari seorang tokoh Rusia lain bernama I.M. Sechenov. I.M. yang banyak mempengaruhi Pavlov ini, kemudian dijadikan dasar pandangan pula oleh J.B. Watson di Amerika Serikat dalam aliran Behaviorismenya setelah mendapat perubahan-perubahan seperlunya.

Dasar pendidikan Pavlov memang ilmu faal. Mula-mula ia belajar ilmu faal hewan dan kemudian ilmu kedokteran di Universitas St. Petersburg. Pada tahun 1883 ia mendapat gelar Ph.D. setelah mempertahankan tesisnya mengenai fungsi otot-otot jantung. Kemudian selama dua tahun ia belajar di Leipzig dan Breslau. Pada tahun 1890 ia menjadi profesor dalam farmakologi di Akademi Kedokteran Miilter di St. Petersburg dan Direktur Departemen Ilmu Faal di Institute of Experimental Medicine di St. Petersburg. Antara 1895 – 1924 ia menjadi professor ilmu faal di Akademi Rusia di Leningrad. Pada 1904 ia mendapat Hadiah Nobel untuk penelitiannya tentang pencernaan.

Penemuan Pavlov yang sangat menentukan dalam sejarah psikologi adlah hasil penyelidikannya tentang refleks berkondisi (conditioned reflects). Dengan penemuannya ini Pavlov meletakkan dasar-dasar Behaviorisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian-penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar. Bahkan Amerika Psychological Association (A.P.A.) mengakui bahwa Pavlov adalah orang yang terbesar pengaruhnya dalam psikologi modern di samping Freud.

Adapun jalan eksperimen tentang refleks berkondisi yang dilakukan Pavlov adalah sebagai berikut: Pavlov menggunakan seekor anjing sebagai binatang percobaan. Anjing itu diikat dan dioperasi pada bagian rahangnya sedemikian rupa, sehingga tiap-tiap air liur yang keluar dapat ditampung dan diukur jumlahnya. Pavlov kemudian menekan sebuah tombol dan keluarlah semangkuk makanan di hadapan anjing percobaan. Sebagai reaksi atas munculnya makanan, anjing itu mengeluarkan air liur yang dapat terlihat jelas pad aalat pengukur. Makanan yang keluar disebut sebagai perangsang tak berkondisi (unconditioned stimulus) dan air lliur yang keluar setelah anjiing melihat makanan disebut refleks tak berkondisi (unconditioned reflex), karena setiap anjing akan melakukan refleks yang sama (mengeluarkan air liur) kalau melihat rangsang yang sama pula (makanan).

Kemudian dalam percobaan selanjutnya Pavlov membunyikan bel setiap kali ia hendak mengeluarkan makanan. Dengan demikian anjing akan mendengar bel dahulu sebelum ia melihat makanan muncul di depanny. Percobaan ini dilakukan berkali-kali dan selama itu keluarnya air liur diamati terus. Mula-mula air liur hanya  keluar setelah anjing melihat makanan (refleks tak berkondisi), tetapi lama-kelamaan air liur sudah keluar pada waktu anjing baru mendengar bel. Keluarnya air liur setelah anjing mendengar bel disebut sebagai refleks berkondisi (conditioned reflects) , karena refleks itu merupakan hasil latihan yang terus-menerus dan hanya anjing yang sudah mendapat latihan itu saja yang dapat melakukannya. Bunyi bel jadinya rangsang berkondisi (conditioned reflects). Kalau latihan itu diteruskan, maka pada suatu waktu keluarnya air liur setelah anjing mendengar bunyi bel akan tetap terjadi walaupun tidak ada lagi makanan yang mengikuti bunyi bel itu. Dengan perkataan lain, refleks berkondisi akan bertahan walaupun rangsang tak berkondisi tidak ada lagi. Pada tingkat yang lebih lanjut, bunyi bel didahului oleh sebuah lampu yang menyala, maka lama-kelamaan air liur sudah keluar setelah anjing melihat nyala lampu walaupun ia tidak mendengar bel atau melihat makanan sesudahnya.

Demikianlah satu rangsang berkondisi dapat dihubungkan dengan rangsang berkondisi lainnya sehingga binatang percobaan tetap dapat mempertahankan refleks berkondisi walaupun rangsang tak berkondisi tidak lagi dipertahankan. Tentu saja tidak adanya rangsang tak berkondisi hanya bisa dilakukan sampai pada taraf tertentu, karena terlalu lama tidak adarangsang tak berkondisi, binatang percobaan itu tidak akan mendapat imbalan (reward) atas refleks yang sudah dilakukannya dan karena itu refleks itu makin lama akan semakin menghilang dan terjadilah ekstinksi atau proses penghapusan refleks (extinction).

Rumus pengkondisian Klasikal

rumus Classiacal ConditioningIstilah ilmiah

Makan = Unconditional Stimulus (rangsangan tak bersyarat) : dalam keadaan normal, stimulus tersebut mendatangkan respon reflex pengeluaran air liur, tanpa perlu syarat atau dorongan apa pun.

Lonceng = Conditional Stimulus (rangsangan bersyarat): kehadiran lonceng hanya dapat mengaktifkan reflex air liur dengan kehadiran makanan pada saat bersama makanan.

Pengeluaran air liur karena makanan = Unconditional Response (respon bersyarat), merupakan respon dari stimulus tidak bersyarat

Pengeluaran air liur karena lonceng = Conditional Response (respon bersyarat, merupakan respon terhadap stimulus bersyarat

Pengeluaran air liur oleh anjing sebagai akibat dibunyikannya lonceng merupakan hasil dari dari kebiasaan adanya bunyi lonceng yang dihubungkan dengan penyajian makanan.

Menurut Pavlov setiap stimulus menimbulkan aktivitas di otak. US dan CS menimbulkan aktivitas di otak, dimana US lebih dominan daripada CS. Jika US dan CS dipasangkan, maka otak akan menghubungkan maka terjadilah asosiasi.

  • PENGHAPUSAN BERSYARAT

Rangsangan tak bersyarat akan menguatkan respon rangsangan bersyarat. Tanpa rangsangan tak bersyarat (makanan) respon bersyarat (keluarnya air liur) tidak akan keluar. Apabila stimulus bersyarat diberikan, sementara itu stimulus tak bersyarat tidak diberikan maka respon bersyarat secara bertahap akan menghilang. Proses inilah yang disebut dengan PENGHAPUSAN (EXTINCTION) sama dengan lonceng dibunyikan, tetapi makanan tidak diberikan, maka respon menetesnya air liur secara bertahap akan hilang. Bila stimulus bersyarat dibunyikan lagi sesudah selang beberapa waktu bagi binatang untuk istirahat, respon bersyarat mungkin akan muncul lagi meskipun lebih lemah. Hal ini disebut PEMULIHAN SPONTAN (SPONTANEUS RECOVERY).

  • PENYAMARATAAN (GENERALIZATION)

Conditioning dapat lebih fleksibel dengan adanya generalisasi, yaitu : stimulus lain yang dibuat sedikit mirip dengan stimulus bersyarat yang asli dapat juga menimbulkan respon. Mis: lonceng dengan bunyi yang lebing nyaring. Pengaruhnya terhadap binatang adalah binatang menjadi MAMPU menyamaratakan perilaku mereka untuk merespon stimulus yang berbeda. Generalisasi sama dengan reaksi terhadap persamaan.

  • DISKRIMINASI

Merupakan reaksi terhadap perbedaan. Pengkondisian diskriminasi ditimbulkan melalui penguatan dan penghapusan secara selektif. Binatang dapat juga diajar untuk melakukan diskrimunasi (membedakan),

Eksperimen:

Disajikan lingkaran berwarna putih→penguat : makanan→binatang mengeluarkan air liur

Generalisasi : tiap ada lingkaran apapun warnanya→binatang akan mengeluarkan air liur

Diskriminasi : hanya saat lingkaran putih, penguat diberikan

hasil→binatang dapat membedakan warna lingkaran, sehingga air liur hanya keluar saat lingkaran putih disajikan

diskriminasi sama dengan reaksi terhadap perbedaan

  • SENSITISASI

Merupakan preoses terjadinya kepekaan terhadap suatu stimulus. Pemberian stimulus tidak bersyarat secara terus-menerus menyebabkan organism menjadi sensitive sehingga dia akan memberikan respon yang sama meskipun stimulusnya telah berganti.

  • PENGGUNAAN CLASSICAL CONDITIONING

Digunakan dalam terapi perilaku untuk masalah-masalah kecanduan alkohol,, drug sama dengan terapi aversi atau pada kasus fobia. Terjadinya fobia menurut Pavlov merupakan hasil belajar.

Misalnya terjadinya fobia pada kerumunan orang akibat kerusuhan:

Pengalaman mengerikan                                                → takut dan cemas

Kerumunan orang + pengalaman mengerikan     → takut dan cemas

Kerumunan orang                                                         → takut dan cemas

Cara penanggulangannya : stimulus bersyarat dimunculkan beberapa kali tanpa disertai munculnya stimulus tak bersyarat sehingga respon bersyarat akan hilang.

Kondisioning klasikal merupakan bentuk belajar yang paling sederhana. Belajar tampak dari adanya perubahan perilaku dan dalam model ini perubahan perilaku telah terjadi saat stimulus bersyarat diasosiasikan dengan stimulus tidak bersyarat. Model ini dinialai tidak fleksibel dan kurang dapat menjelsakan belajar dengan manyeluruh.

Teori ini menekankan bahwa belajar terdiri atas pembangkitan respons dengan stimulus yang pada mulanya bersifat netral atau tidak memadai. Melalui persinggungan (congruity) stimulus dengan respos, stimulus yang tidak memadai untuk menimbulkan respons tadi akhirnya mampu menimbulkan resposns.

Implikasi teori belajar ini dalam pendidikan adalah :

1. Tingkah laku guru mengharapkan murid menghafal secara mekanis/otomatis

2. Verbalitis karena tingkah laku mechanistis dan reflektif.

3. Guru tersebut membiasakan muridnya dengan latihan

4. Sekolah D (duduk), tidak ada inisiatif karena perasaan, pikiran tak mengarahkan tingkah laku

5. Guru hanya memberi tugas tanpa disadari oleh muridnya

6. Guru tidak memperhatikan individual differences

7. Guru menggunakan “learning by parts” sampai tak ada hubungan

8. Guru menyuapi murid saja dan murid menerima yang diolah guru, jadi guru aktif.

Hal ini terjadi karena (menurut teori belajar contioning) :

a. Terbentuknya tingkah laku sangat sederhana dan mekanistis reflektif

b. Peranan perasaan, kemauan, pikiran, kepribadian tak mengarahkan tingkah laku. Jadi manusia saja

c. Tak sanggup menganalisa tingkah laku yang kompleks dimana tenaga rohani sebagai pendorong.

d. Terbentuknya tingkah laku karena habis formation.

Sumber: materi kuliah sem III, USD

DI KOMM YAH>>>>>>>>>>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s