MICRO-SKILLS DALAM KONSELING (Cara Menghadapi Klien dan Penggunaan Respon yang Minimal)

Posted: Mei 20, 2012 in PSIKOLOGI

MICRO-SKILLS
Cara Menghadapi Klien dan Penggunaan Respon yang Minimal

Meskipun terkadang klien menanyakan saran, namun pada umumnya mereka tidak suka diberikan saran, dan jarang sekiranya yang datang kepada konselor untuk mendengarkan konselor. Mereka datang kepada konselor untuk membicarakan tentang diri mereka sediri, untuk mendapatkan sesuatu yang dapat melegakan hati, untuk mengungkapkan perasaannya, dan untuk mengatakan sesuatu yang sangat sulit atau tidak mungkin dapat dikatakan pada teman atau keluarga. Jika kamu dapat mengingat bahwa klien benar-benar datang untuk berbicara kepadamu dan untuk mencurahkan kepadamu sesuatu yang mengganggunya, dan bahwa dia tidak datang kepadamu untuk mendengarkan perkataanmu, kemudian kamu akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik pada hubungan dalam konseling.
Yang utama bagi seorang konselor adalah sebagai pendengar. Dengan mendengarkan apa yang dikatakan klien, konselor dapat membantu klien untuk melewati kebingungan dan kekacauan, mengidentifikasi dilemma, mengeksplorasi pilihan-pilihan klien, dan setelah melakukan sesi konseling klien merasakan sesuatu yang berguna telah terjadi. Oleh karena itu, konselor dibutuhkan untuk secara hati-hati memeriksa segala sesuatu yang diucapkan oleh klien dan mengingat hal-hal terkecil dalam percakapan. Jika kamu ingin meyakinkan kepada klien bahwa kamu benar-benar mendengarkannya, kamu tidak butuh menanyakannya nama dari pertemuan kedua. Kamu tidak butuh memintanya untuk mengingatkanmu tentang apa yang telah terjadi lima tahun lalu dalam relasinya, atau tentang sesuatu yang sepele yang hampir tidak disebutkannya. Kamu harus mengingat secara detail, karena selama sesi konseling kamu akan memfokuskan konsentrasimu pada klien dan pada apa yang dikatakannya padamu. Cara yang baik agar klien mengetahui bahwa kamu memberikan perhatian penuh padanya ialah dengan penggunaan respon yang minimal.
Minimal respon adalah sesuatu yang secara otomatis kita lakukan dalam percakapan kita ketika kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Konseling melibatkan seni dalam membangun kemampuan mendengarkan dan menganggap penting penggunaan respon yang minimal. Minimal respon kadang-kadang dalam bentuk non-verbal dan termasuk menganggukkan kepala. Yang juga termasuk dalam minimal respon adalah ekspresi seperti “A-ha.” “uh-hm,” “ya,” “OK,” dan “baik.” Selama klien berbicara terus menerus, konselor perlu waktu demi waktu untuk menegaskan bahwa dia mendengarkan apa yang klien katakan, dan ini dapat terjadi dengan memasukkan respon yang minimal pada interval waktu yang tetap.
Sebagai konselor, waktu dalam memberikan respon yang minimal harus dilakukan dengan tepat. Jika mereka memberikan terlalu sering, maka akan menjadi gangguan dan akan merusak. Sebaliknya, jika mereka tidak cukup sering memberikan respon yang minimal, maka klien akan menganggap bahwa kamu tidak benar-benar memeriksa apa yang ia katakan. Dalam rangka menciptakan relasi yang empatik, padukan kecepatan dalam berbicara dan nada suara klienmu. Ketika dia berbicara dengan cepat kamu menanggapi dengan cepat, dan ketika ia perlahan-lahan bercerita maka buat dirimu juga tidak tergesah-gesah.
Respon yang minimal tidak hanya pembenaran bahwa klien harus didengarkan. Ini dapat menjadi cara yang cerdik dalam mengkomunikasikan pesan-pesan lainnya. Ini dapat digunakan untuk menyatakan bahwa konselor setuju dengan klien, atau untuk menekankan pentingnya pernyataan dari klien, untuk menyatakan kejutan, atau untuk menanyakan kepatutan dari apa yang klien katakan. Cara dalam memberikan respon yang minimal – penggunaan nada pada suara, diiringi dengan perilaku non-verbal seperti gerakan mata, ekspresi wajah dan pergerakan tubuh – semua dikombinasikan untuk memberikan pesan kepada klien.
Beberapa respon yang lebih panjang memiliki fungsi yang mirip dengan respon yang minimal. Sebagai contoh, konselor dapat mengatakan “ Saya mendengarkan apa yang kamu katakan,” atau “Saya mengerti.” Bersama dengan penggunaan respon yang minimal, cara lain yang dapat digunakan oleh konselor untuk membantu klien merasa bahwa dia benar-benar didengarkan ialah dengan memadukan perilaku non-verbal. Jika klien duduk di pinggir kursi dengan tangan di atas lutut yang memandang ke depan, kemudian itu dapat berguna bagi konselor untuk duduk dengan cara yang sama dan menggunakan efek cermin untuk melihat pergerakan klien. Dengan melakukan ini, klien akan merasa adanya hubungan yang intim antara dirinya dengan konselor, daripada konselor yang duduk di belakang sebagai ahli yang superior, mendengarkan dan menghakimi apa yang mereka katakan. Sama halnya ketika klien duduk bersandar pada kursinya dengan kaki disilangkan, dan konselor dengan iseng menyesuaikan gerakan tersebut, klien dapat merasakan lebih tenang.
Jika konselor menyesuaikan perilaku non verbal klien dan sikap klien sementara waktu, kemudian lebih sering daripada tidak, klien akan menyesuaikan perilaku konselor ketika konselor melakukan perubahan. Dengn cara ini konselor dapat membawa perubahan pada keadaan emosional klien. Sebagai contoh, dengan menyesuaikan kecepatan dan nada bicara dan kecepatan bernafas, klien yang merasa gelisah konselor dapat bergabung dengannya. Ketika konselor ingin diperlakukan hal yang sama, dia dapat memperlambat pernafasan, memperlambvat kecepatan dalam berbicara dan duduk secara nyaman di kursinya. Jika penyesuaian tersebut berjalan efektif klien akan mengikuti contoh dari konselor dan akan lebih lambat dan mengadopsi sikap yang lebih rileks. Teknik ini dapat sangat membantu pada keadaan khusus pada proses konseling.
Konselor harus hati-hati dan tidak boleh menggerakan badannya terlalu cepat selama sesi konseling sebab hal tersebut dapat menggangu klien dan menyela percakapan. Oleh karena itu konselor butuh rileks dan secara natural dalam mengubah posisinya sesuai dengan keinginannya, tetapi ini harus dilakukan dengan cara pelan-pelan dan jangan secara tiba-tiba.
Kontak mata juga penting dalam membangun rapot dengan klien. Jaman dahulu, beberapa konselor percaya bahwa kontak mata seharusnya terjadi secara terus-menerus, dan konselor seharusnya terus menerus menatap mata klien. Ini adalah hal yang tidak alami untuk dilakukan dan dapat menyebabkan pertentangan bola mata di mana klien merasa tidak nyaman untuk menatap daripada bergabung dengan konselor. Untuk itu konselor dibutuhkan untuk dapat mengatur kontak mata dengan klien dan dapat mengamati norma sosial dengan berperilaku secara natural.
Sebagai konselor yang baru, saya ingat sering tidak focus sepenuhnya dengan apa yang klien katakan, tapi malah berlatih untuk merespons konseling selanjutnya perilaku tersebut sangat mengganggu dalam proses konseling. Hal tersebut disebabkan karena perasaan nervous dan keinginan untuk terlihat professional dan berkompeten daripada sebagai teman dan sesuai kenyataan. Saya juga tidak nyaman dengan diam dan merasa bahwa saya mempunyai kewajiban untuk mengisi kekosongan pada percakapan. Sekarang saya lebih nyaman dengan diam dan tidak ada tekanan pada saya untuk memberikan respon saat klien berhenti berbicara. Malahan saya merasa cukup nyaman untuk mempersilahkan klien, jika dia mau untuk berfikir dalam ketenangan kadang-kadang ketika klien telah selesai membuat pernyataan dengan penuh tenaga dan secara pribadi, dia membutuhkan waktu untuk duduk dengan tenang dan memproses apa yang telah ia katakan. Dalam menyesuaikan ketenangan klien dapat dilakukan dengan memberikan perhatian kepadanya melalui kontak mata yang tepat. Jika kamu mengamati pergerakan matanya secara hati-hati, kamu akan dapat mengetahui ketika dia berpikir dan berhenti berfikir daripada mengintruksi. Ketika berfikir, mata klien seperti fokus secara terus-menerus pada kejauhan dan ketika dia berhenti berfikir matanya akan memberitahumu.

Kesimpulan Pembelajaran :
• Klien sering menanyakan saran namun secara umum klien tidak suka menerima saran.
• Fungsi utama konselor adalah sebagai pendengar yang aktif.
• Respon yang minimal dapat berupa verbal maupun non verbal.
• Melakuan minimal respon dengan mengkuti :
Tunjukan pada klien bahwa kamu memperhatikannya.
Bantu ciptakan relasi yang empatik.
Berikan klien pesan yang halus.
• Bergabung dengan klien adalah perbaikan dengan :
Sesuaikan nada verbal dan kecepatan;
Sesuaikan perilaku non-verbal seperti sikap; dan
Buat kontak mata yang tepat.
• Gerakan yang cepat yang dilakukan konselor dapat mengganggu klien.
• Ketenanga sangat penting dalam memberikan waktu pada klien untuk berpikir dan memproses apa yang telah ia katakan.
• Mata klien dapat mengatakan kepadamu ketika ia berpikir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s